Friday, March 8, 2013

CERPEN


Di sebuah pantai yang permai dengan pasir putihnya membentang luas, ombak menggulung seperti berkejaran dari tengah lautan menuju ke pinggir pantai. Lepas mata memandang kapal-kapal berlabuh persis seperti kapal mainan tampak dari kejauhan. Nyiur melambai-lambai seakan tak pernah jenu di terpa kencang angin lautan yang seakan membawa kabar tentang indahnya kebesaran Tuhan YME.
Lembayung senja perlahan menghilang karena sang pemberi terang perlahan terbenam dengan sejuta pesona terpancar kepada siapa saja yang melihatnya. Di menara merah ditemani cahaya lampu temaram aku mencoba memulai menulis sebuah cerpen di atas kertas putih yang sengaja aku bawa dari rumah.
segenap kegelapan memenuhi alam yang ditinggalkan sementara oleh mentari yang menerangi alam lain, datanglah malam bersama rembulan yang bersinar seperti sudah diatur dengan tugas masing-masing. Berjuta bintang di langit tidak ketinggalan meramaikan suasana dengan berkelap-kelip teratur menambah keindahan pantai tersebut.
Hari ini begitu indah ku lewati kota Jakarta, tidak ada suara tangis bayi kelaparan, tiada kulihat pengemis dengan pakaian kumalnya menengadahkan tangan meminta-minta berharap orang kasihan melihat dan memberikannya sedikit uang. Jalan raya aman tanpa demonstrasi oleh mahasiswa atau rakyat yang menuntut hak dan keadilan kepada penguasa, dengan para aparat keamanan berwajah garang menghadang di depan lengkap dengan perlengkapan perang yang dimiliki. Kupingku bebas dari suara sumbang dan lantang para pengamen jalanan yang asyik bernyanyi mencari sepeser uang untuk bertahan hidup. Tidak ku dapati suara kernet berteriak-teriak mencoba mencari penumpang agar mendapat imbalan dari sopir yang duduk santai di dalam kendaraannya.
Aku terus berjalan dengan tanpa hambatan, biasanya macet jadi pemandangan sehari-hari, sumpah serapah dari para sopir bersaing dengan kebisingan kendaraan yang mengeluarkan polusi udara itu sudah lumrah terjadi.
Benar-benar semuanya hari ini terjadi dan langka aku dapati selama ini. Semuanya bersih, rapi, tertib, aman dan nyaman dihiasi dengan wajah orang-orangnya dipenuhi senyuman kebahagiaan. Sepertinya kota ini jauh dari ketidak adilan, kesenjangan sosial,dan penduduknya damai sejahtera.
Sampailah aku di depan tugu monas yang berdiri kokoh menantang langit, tugu itu menjulang tinggi setinggi cita-cita dan asa yang tersisa kuangkat kedua tanganku lurus ke atas dan mulai menari akan tetapi dari arah belakangku ada tangan besar yang menepuk pundakku.
“Mas…mas…bangun…bangun….Malam sudah larut!!!” kata salah seorang penjaga menara pantai tersebut kepadaku seraya menepuk pelan pundakku. Aku kaget setengah mati dan langsung bangun mengusap kedua matakuyang masih ngantuk, rupanya aku bermimpi tadi. Aku pamit pulang dengan penjaga menara pantai itu dengan langkah gontai aku berjalan menuruni menara berwarna merah itu , sesampainya di bawah mataku tertuju ke arah kertas putih ditanganku yang masih kosong hanya ada judulnya saja yang tertulis di atas kertas putih tersebut judulnya adalah CERPEN.

No comments: